Maaf kiyai saya mau menanyakan tentang informasi yang sering saya dapatkan bahwa di hari Asyura itu terjadi beberapa peristiwa besar seperti selamatnya nabi Musa dari Fir’aun, nabi Yunus keluar dari perut ikan, nabi Yusuf keluar dari penjara dan lainnya. Apakah hal tersebut ada sumber riwayatnya ?
Jawaban
Oleh : Ahmad Syahrin Thoriq
Hari Asyura adalah termasuk dari hari yang memiliki keutamaan dan kekhususan tersendiri dalam syariat Islam. Sebagaimana hal ini dinyatakan oleh al imam Ibnu Rajab al Hanbali berikut ini :
يوم عاشوراء له فضيلة عظيمة وحرمة قديمة
“Hari Asyura memiliki keutamaan yang agung dan kehormatan sejak dahulu...”[1]
Apa yang ditanyakan tersebut memang disebutkan dalam beberapa kitab yang ditulis oleh para ulama. Yang mana sebagian kitab tersebut sangat populer dan menjadi bacaan umumnya para santri yang ada di pondok-pondok pesantren, seperti contohnya kitab I’anatut Thalibin dan Tanbihul Ghafilin.
Dan riwayatnya ada yang disandarkan kepada hadits, ada pula yang termasuk khabar israiliyat atau merupakan khabar tanpa sanad riwayat. Mari kita nukil dulu beberapa diantaranya, lalu kita akan sertakan penilaian para ulama tentang bagaimana validitas kisah atau riwayat tersebut.
Al imam Abu Laits as Samarkandi rahimahullah berkata :
خلق الله تعالى السموات والأرضين يوم عاشوراء، وخلق الجبال يوم عاشوراء، وخلق
البحر يوم عاشوراء، وخلق اللوح والقلم يوم عاشوراء، وخلق آدم يوم عاشوراء، وخلق
حواء يوم عاشوراء، وخلق الجنة وأدخله الجنة يوم عاشوراء، وولد إبراهيم يوم
عاشوراء، ونجاه الله من النار يوم عاشوراء، وقد أمر بالذبح يوم عاشوراء، وفدى ولده
من الذبح يوم عاشوراء، وأغرق فرعون يوم عاشوراء، وكشف البلاء عن أيوب يوم عاشوراء،
وتاب الله على آدم يوم عاشوراء، وغفر ذنب داود يوم عاشوراء، ورد ملك سليمان يوم
عاشوراء، وولد عيسى في يوم عاشوراء، ورفع الله إدريس وعيسى يوم عاشوراء، وولد النبي صلى الله عليه وسلم في
يوم عاشوراء
“Allah ta’ala menciptakan langit dan bumi, gunung, laut, lembaran dan pena, Adam, Hawa dan syurga pada hari Asyura. Begitu juga Ibrahim dilahirkan dan selamat dari api pada hari Asyura. Dia juga diperintahkan untuk menyembelih anaknya pada hari Asyura dan digantikannya dengan hewan pada hari tersebut.
Ditenggelamkannya Fir’aun, diangkatnya ujian berat Ayyub, diterima taubatnya Adam, diampuninya kesalahan Daud, diberinya Sulaiman kerajaan, dilahirkannya Isa, diangkatnya Idris, dan dilahirkannya Nabi shallallahu’alaihi wasallam pada hari Asyura.”[2]
Syaikh Abu Bakar Syatha rahimahullah berkata :
فإنه اليوم الذي تاب الله فيه على آدم فأصبح صفيا، ورفع فيه إدريس مكانا عليا، وأخرج نوحا من السفينة ونجى إبراهيم من النار، وأنزل الله فيه التوراة على موسى، وأخرج فيه يوسف من السجن، ورد فيه على يعقوب بصره، وفيه كشف الضر عن أيوب، وفيه أخرج يونس من بطن الحوت، وفيه فلق البحر لبني إسرائيل، وفيه غفر لداود ذنبه، وفيه أعطى الله الملك لسليمان، وفي هذا اليوم غفر لمحمد - صلى الله عليه وسلم - ما تقدم من ذنبه وما تأخر
“Sesungguhnya Asyura adalah hari dimana Allah menerima taubatnya Adam, sehingga kemudian menjadi suci bersih dari kesalahan. Dan pada hari tersebut Idris diangkat ke makam yang tinggi, Nuh keluar dari perahunya, selamatnya Ibrahim dari api, turunnya taurat kepada Musa, dikeluarkannya Yusuf dari penjara, dikembalikannya penglihatan Ya’qub, diangkatnya ujian Ayyub, hari Yunus keluar dari perut ikan, hari dibelahnya lautan untuk bani Israil, diampuni kesalahannya Daud, diberinya Sulaiman kerajaan, dan pada hari ini pula diampuni seluruh kesalahan Muhammad shallallahu’alaihi wasallam yang terdahulu dan yang terkemudian.”[3]
Al imam Ramli asy Syafi’i rahimahullah berkata :
واختلفوا في تسميتها عاشوراء، فذكر المنذري قولًا أن الله أكرم فيه عشرة من الأنبياء بعشر كرامات: فتاب الله على آدم فيه، ونجى إبراهيم من النار، وكشف البلاء عن أيوب، وأخرج يونس من بطن الحوت
“Dan para ulama berbeda pendapat tentang sebab penamaan Asyura’ dan telah menyebutkan al Mundziri bahwa karena Allah memuliakan pada hari tersebut sepuluh nabiNya dengan sepuluh kemuliaan. Yaitu bertaubatnya Adam pada hari tersebut, selamatnya Ibrahim dari api, diangkatnya ujian Ayyub, keluarnya Yunus dari perut ikan dan seterusnya...”[4]
Dan masih banyak lagi kitab yang memuat kisah ini, dengan redaksi yang berbeda-beda yang kebanyakan dicantumkan tanpa sanad riwayat. Seperti dalam kitab Umdatul Qari karya al imam al ‘Aini, al Gunyah li Thalib Thariq al Haq karya Syaikh Abdul Qadir al Jilany, Hasyiah al Jamal dan lainnya.
Penilaian ulama ahli hadits terhadap riwayat-riwayat diatas
Diantaranya ulama yang dengan tegas mengomentari sanad riwayat yang telah kita sebutkan diatas adalah al imam Ibnu Jauzi rahimahullah. Bahkan beliau mencantumkannya dalam kitab beliau al Maudhu’at, yakni Kumpulan hadits-hadits palsu. Beliau rahimahullah berkata :
هذا حديث لا يشك عاقل في وضعه ولقد أبدع من وضعه وكشف القناع ولم يستحيى وأتى فيه المستحيل وهو قوله: وأول يوم خلق الله يوم عاشوراء، وهذا تغفيل من واضعه لانه إنما يسمى يوم عاشوراء إذا سبقه تسعة
“Hadits ini, bagi siapapun yang memiliki akal, dia tidak akan ragu akan kepalsuannya. Orang yang membuat hadis ini terlalu mengada-ngada, dengan terang-terangan, dan tidak malu. Riwayat ini menyebutkan sesuatu yang mustahil, yaitu pernyataan, “Asyura adalah hari pertama yang Allah ciptakan di dunia.” Dan ini karena yang membuat hadits lupa, bahwa namanya Asyura (sepuluh), itu jika sudah pasti didahului oleh angka Sembilan.”[5]
Pernyataan dari al imam Ibnu Jauzi diatas juga dinukil ulang oleh al imam Badrudin al ‘Aini al Hanafi dan juga imam Ibnu Hajar al Asqalani rahimahullah, yang menunjukkan bahwa keduanya sependapat dengan al imam Ibnu Jauzi dalam menghukumi hadits tersebut.[6]
Al imam adz Dzahabi rahimahullah ketika membahas dan menjelaskan kepalsuan dari riwayat yang serupa dengan yang telah kita sebutkan di atas beliau berkata :
فقبح الله من وضعه
“Semoga Allah memburukkan orang yang mencantumkan hadits ini.”[7]
Al imam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata :
وَرَوَوْا فِي حَدِيثٍ مَوْضُوعٍ مَكْذُوبٍ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Dan mereka telah meriwayatkan hadits tentang masalah ini yang merupakan sebuah kedustaan atas Nabi shallallahu’alaihi wasallam.”[8]
Al imam Ibnu Hajar al Haitami rahimahullah ketika menyebutkan hadits-hadits yang berkaitan dengan hari Asyura berkata :
فَكل ذَلِك مَوْضُوع إِلَّا حَدِيث التَّوسعَة على الْعِيَال
“Semua hal yang berkaitan dengan (Asyura) ini adalah maudhu’ kecuali hadits tentang meluaskan belanja untuk keluarga.”[9]
Demikian
juga dengan imam as Suyuthi rahimahullah menyatakan dengan tegas bahwa riwayat
diatas adalah hadits palsu. [10]
Kesimpulan
Hampir semua ulama-ulama ahli hadits menyatakan bahwa riwayat yang ditanyakan tersebut adalah riwayat palsu, sehingga tidak boleh dinisbahkan kepada Nabi shallallahu’alaihi wasallam dan tidak boleh disampaikan kecuali dengan menjelaskan status hadits tersebut.
Sampai saat ini kami belum menemukan adanya ulama yang berpendapat sebaliknya dengan menguatkan riwayat tersebut minimal naik menjadi hadits dhaif (lemah) sehingga boleh bila sekedar untuk dikisahkan, sebagaimana dalam pandangan jumhur, hadits lemah yang kelemahannya tidak terlalu parah cenderung longgar bila digunakan selain untuk masalah hukum.
Satu-satunya riwayat yang disepakati keabsahannya dalam masalah ini adalah informasi tentang sebab mengapa orang-orang Yahudi berpuasa di hari Asyura, yang mana sebabnya karena di hari tersebut Allah ta’ala memberikan kemenangan kepada Musa ‘alaihissalam.
قَدِمَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم الْمَدِينَةَ وَالْيَهُودُ تَصُومُ عَاشُورَاءَ فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ ظَهَرَ فِيهِ مُوسَى عَلَى فِرْعَوْنَ . فَقَالَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم لأَصْحَابِهِ أَنْتُمْ أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْهُمْ ، فَصُومُوا
“Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai di Madinah, sementara orang-orang yahudi berpuasa Asyura’. Mereka mengatakan: Ini adalah hari di mana Musa menang melawan Fir’aun. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada para sahabat : “Kalian lebih berhak untuk bangga terhadap Musa dari pada mereka, karena itu berpuasalah.” (HR. Bukhari)
Wallahu a’lam.
[1] Lathaif al Ma’arif hal. 92
[2] Tanbihul Ghafilin hal. 331
[3] I’anah ath Thalibin (2/302)
[4] Syarah Sunan Abu Daud li Ibn Ruslan (10/574)
[5] Al Maudhu’at, Ibnul Jauzi (2/201)
[6] Lisan al Mizan (5/302), al Binayah Syarah al Hidayah (4/44)
[7] Mizan al I’tidal (3/656)
[8] Majmu’ Fatawa (25/300)
[9] Shawaiq al Muhriqah (2/535)
[10] Al Alai al Mashnu’ah (2/93)
0 komentar:
Posting Komentar