BILANGAN DALAM SURAH AL MUJADILAH AYAT 7

 Ustadz mohon penjelasan tentang ayat dalam surah al Mujadilah ayat 7. Apa rahasia penyebutannya mulai dari  ثَلَـٰثَةٍ bukan اربعة dan lalu langsung lompat ke خَمۡسَةٍ ?

Jawaban

Ayat yang ditanyakan tersebut berbunyi sebagai berikut :

اَلَمْ تَرَ اَنَّ اللّٰهَ يَعْلَمُ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ مَا يَكُوْنُ مِنْ نَّجْوٰى ثَلٰثَةٍ اِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ اِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَآ اَدْنٰى مِنْ ذٰلِكَ وَلَآ اَكْثَرَ اِلَّا هُوَ مَعَهُمْ اَيْنَ مَا كَانُوْ

“Apakah engkau tidak memperhatikan bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang, kecuali Dialah yang keempatnya dan tidak ada lima orang, kecuali Dialah yang keenamnya. Tidak kurang dari itu atau lebih banyak, kecuali Dia bersama mereka di mana pun mereka berada…”

Dalam benak penanya dan juga kita yang membaca ayat di atas akan timbul rasa penasaran yaitu : Pertama, mengapa ayat tidak dimulai dengan menyebutkan dua orang dan Allah sebagai yang ketiga ?Kedua, mengapa setelah Allah menyebut ada tiga orang dan Dia yang keempat langsung loncat ada  5 orang dan Dia yang keenam. Mengapa tidak menggunakan ada 4 orang dan Dia yang kelima ?

Pertanyaan-pertanyaan ini telah dijelaskan oleh para ulama dalam kitab-kitab tafsir mereka secara gamblang. Dan untuk memudahkan berikut kami ringkaskan penjelasannya mengingat jika kami copy pastekan langsung apa adanya akan sedikit rumit dan sulit untuk dipahami oleh kalangan awam.[1]

Hikmah pertama, mengandung ungkapan kasih sayangNya

Jika ada tiga orang yang bermusyawarah lalu yang terlibat dalam diskusi hanya dua orang, dalam artian orang ketiga sengaja tidak diajak atau dicuekin maka itu akan menyakitkan orang ketiga tersebut. Demikian juga dengan orang yang berlima, jika empat orangnya terlibat asyik dalam pembicaraan, sedangkan orang yang kelima sengaja disisihkan, maka itu akan menyakitkan baginya.

Penjelasan ini langsung menjawab pertanyaan pertama, kenapa ayat tidak dimulai dengan menyebut dua orang dan Allah sebagai pihak yang ketiga, karena bila dua orang yang saling berbisik-bisik, tidak akan ada pihak ketiga yang sengaja disisihkan.

Hikmah kedua, Allah menyukai angka ganjil

Penuturan ayat yang dimulai dengan menyebutkan bilangan ganjil, yakni 3 dan 5 karena Allah menyukai perkara yang terdiri dari angka ganjil. Sebagaimana sabda Nabi shalallahu’alaihi wassalam :

 

إنَّ اللهَ وِتْرٌ، يُحِبُّ الْوِتْرَ

“Allah itu witir (tunggal), dan menyukai bilangan yang ganjil.” (HR. Bukhari)

Al Imam al ‘Aini rahimahullah menjelaskan :

‌يفضله ‌في ‌الأعمال ‌وكثير ‌من ‌الطاعات ‌ولهذا جعل الله الصلوات خمسا والطواف سبعا وندب التثليث في أكثر الأعمال وخلق السموات سبعا والأرضين سبعا وغير ذلك

 "...Allah telah mengunggulkan bilangan ganjil dalam banyak hal, serta dalam banyak cara ibadah. Semisal Allah menjadikan shalat lima waktu, tawaf dengan tujuh putaran, dan anjuran untuk melakukan beragam kesunnahan dengan tiga kali (semisal saat berwudhu). Juga Allah menciptakan langit bumi yang tujuh tingkat, dan lain sebagainya...”[2]

Dan ketika Allah menyebut angka tiga, lalu setelahnya angka lima, bisa jadi diantara hikmah dari ayat ini adalah perkara ini (Allah menyukai yang ganjil).

Hikmah ketiga, lebih membawa maslahat

Jika hanya ada dua orang yang bermusyawarah, lalu mereka bersengketa atau tidak bisa bersepakat, maka akan lebih sulit diraih mufakat. Namun jika pesertanya ada tiga orang, lalu ada dua pendapat dalam musyawarah tersebut, keberadaan orang ketiga bisa menjadi jalan penyelesaian masalah, entah dengan ia menjadi jembatan dari dua pendapat atau saat diadakan votting. Demikian juga dengan jumlah selanjutnya.

Hikmah keempat , penyertaan Allah

Kalimat ayat akan lebih terasa mendalam ketika diungkapkan dengan : ketika ada tiga orang Allah yang keempat, ada lima orang Allah yang kelima, untuk menunjukkan penyertaan. Karena yang tadinya ganjil telah tergenapi. Untuk menunjukkan keikutsertaan dan keridhaan Allah pada musyawarah.

Kesan yang berbeda akan kita rasakan jika kalimat ayatnya : Tidaklah ada orang berempat kecuali dia yang kelima dan seterusnya…

Hikmah kelima, sesuai konteknya

Ayat tersebut sedang berbicara tentang “Najwa” yang artinya pembicaraan rahasia. Yang mana Namanya rahasia akan membuat orang yang penasaran dan ingin mengetahuinya.  Nah, seakan-akan ayat ini mengungkapkan hal ini lewat susunan kalimatnya. Membuat kita penasaran dan ingin mengetahui mengapa Allah menggunakan bilangan tiga dengan melompati bilangan dua. Lalu setelahnya dari bilangan tiga langsung kelima dengan melompati bilangan 4. Meskipun pada akhirnya kita tahu Allah itu berbuat apapun sesuai dengan kehendakNya.

Himah keenam, asbabun Nuzul

Ayat ini memiliki latar belakang saat turunnya, yakni memang berbicara tentang keadaan tiga orang munafik yang sedang merencanakan makar untuk mencelakai kaum muslimin sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma. Mereka adalah Rabi’ah ibnu Amru, Habib Ibnu Amru, dan Safwan bin Umayyah.

Sehingga penyebutkan angka tiga ini adalah sebagai ungkapan fakta yang terjadi.  Adapun penyebutan angka lima dan bilangan “tidak kurang dari itu atau lebih banyak” adalah sebagai penegasan.

Penutup

Ini diantara sedikit hikmah dari hal yang ditanyakan dari ayat ke-7 dari surah al Mujadilah tersebut. Saya sebenarnya hendak menyebutkan hingga delapan point dari hikmah-hikmah yang terkandung dalam ayat ini karena memang masih banyak penjelasan dari para ulama yang bisa disertakan. Tapi takutnya nanti tidak dibaca, atau malah ada yang nanya lagi : “Mengapa harus delapan ?!” Dari pada cuma nambah masalah, saya cukupi saja ya... Wallahu a’lam.




[1] Referensi : Mafatih al Ghaib ( 29 /489-492), al Qurthubi (17/289-290), ath Thabari (23/270-272)

[2] Umdatul Qari (23/29)





0 komentar:

Posting Komentar

BILANGAN DALAM SURAH AL MUJADILAH AYAT 7