Jawaban
Tentang siapa yang akan disembelih oleh nabi Ibrahim dari dua anaknya, Ismail atau Ishaq ulama memang berbeda pendapat. Sebab perbedaan ini karena memang tidak ada nash ayat yang menyebutkan dengan tegas, demikian juga tidak ada hadits yang shahih lagi sarih (jelas) yang menjelaskan tentang hal ini.
Sebagian ulama berpendapat itu adalah nabi Ismail, sedangkan sebagian yang lain berpendapat itu adalah nabi Ishaq ‘alaihimassalam. Dan sepanjang generasi, dua kelompok pendapat ini terus saling beradu argumentasi, saling menguatkan pendapat yang mereka pegang.
Dan mari sepintas kita menyimak penjelasan dari masing-masing dua kubu pendapat dalam masalah ini.
Yang berpendapat nabi Ismail
Mayoritas ulama dari berbagai madzhab dan kelompok keilmuan berpendapat bahwa yang hendak diqurbankan oleh Ibrahim adalah anaknya nabi Ismail. Berikut ini beberapa pernyataan ulama mewakili pendapat pertama ini :
Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata :
الصحيح أن الذبيح هو إسماعيل وعليه جمهور العلماء من السَّلف والخلف
“Pendapat yang shahih bahwa yang akan disembelih adalah Ismail ‘alaihissalam dan ini juga adalah pendapat mayoritas ulama salaf maupun khalaf.”[1]
Al imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata :
الذي هو الذبيح على الصحيح إسماعيل بكر إبراهيم الخليل ... ومن قال إن الذبيح هو إسحاق فإنما تلقاه من نقلة بني إسرائيل الذين بدلوا وحرفوا وأولوا التوراة والإنجيل
“Yang hendak akan disembelih menurut pendapat yang shahih adalah anaknya yang dilahirkan lebih awal yakni Ismail... dan yang berpendapat bahwa yang akan disembelih adalah Ishaq maka ini bersumber dari informasi bani Israel yang mereka sudah terbiasa merubah, mengganti isi Taurat dengan injil.”[2]
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata :
فان الذبيح هو إسماعيل على اصح القولين للعلماء وقول أكثرهم كما دل عليه الكتاب والسنة
“Sesungguhnya yang akan disembelih adalah Ismail menurut pendapat yang lebih shahih dari dua pendapat yang ada. Dan ini adalah pendapat kebanyakan ulama dengan dalil yang ditunjukkan dalam al Kitab dan juga sunnah.”[3]
Syaikhul Islam al imam As Subki rahimahullah berkata :
الصحيح عن جمهور العلماء ان الذبيح هو إسماعيل عليه السلام
“Adapun yang shahih dari pendapat mayoritas ulama bahwa yang disembelih adalah nabi Ismail ‘alaihissalam.”[4]
Al imam Tsa’labi rahimahullah berkata :
بل الراجحُ أنه إِسماعيل على ما هو معلومٌ في موضعه
“Namun yang kuat bahwa yang akan disembelih itu adalah Ismail sebagaimana telah diketahui dia berada di tempat peristiwa tersebut terjadi.”[5]
Dalil pendapat
Adapun diantara dalil yang digunakan oleh kalangan ini adalah pertama firman Allah subhanahu wata’ala dalam surah ash Shafat dari ayat 90 sampai dengan ayat 113 yang menyebutkan perintah penyembelihan anak kepada Ibrahim. Di mana ayat-ayat tersebut menjadi dalil bahwa yang akan disembelih adalah Ismail bukan Ishaq, karena penyebutan Ismail didahulukan baru kemudian Ishaq. Karena yang diperintahkan untuk disembelih adalah anak pertama yang lahir.
Lalu nabi Ismail disifati dengan sifat sabar dan lembutnya, sedangkan Ishaq dengan keilmuannya. Dimana antara dua pensifatan ini yang lebih cocok adalah sifat lembut dan sabar dalam menghadapi ujian perintah tersebut. Dalam tafsir Khazin dijelaskan :
Dalam tafsir Khazin dijelaskan :
وهذا على قول من يقول إن الذبيح هو إسماعيل ومعناه أنه بشر بإسحاق بعد هذه القصة جزاء لطاعته وصبره
Dan ini menjadi dalil bagi yang berpendapat bahwa yang diperintahkan untuk disembelih adalah Ismail, karena khabar gembira tentang Ishaq disebutkan setelah penyebutan tentang kisah ketaatan dan kesabaran (penyembelihan).”[6]
Kedua, Firman Allah ta’ala :
فَبَشَّرْنَاهَا بِإِسْحَاقَ وَمِنْ وَرَاءِ إِسْحَاقَ يَعْقُوبَ
“Dan kami beri kabar gembira dengan Ishaq dan setelah Ishaq (anak keturunnya) Ya’qub.” (QS. Hud : 71)
Sisi pendalilannya adalah jika nabi Ibrahim diberi khabar gembira akan kelahiran Ishaq yang nanti akan punya anak keturunan shalih bahkan ada yang jadi nabi seperti Ya’qub, lalu bagaimana mungkin Ibrahim akan diuji dengan penyembelihan itu. Karena tentu beliau dengan kecerdasannya akan langsung bisa tahu “kunci jawaban” dari ujian tersebut.[7]
Ketiga, bahwa Nabi Ishaq tinggal di Syam sekitar Baitul Maqdis, sedangkan Nabi Ismail tinggal di Mekah dekat dengan Mina sebagai tempat terjadinya peristiwa penyembelihan.
Keempat disebutkan dalam sebuah hadits, Bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda :
أَنَا ابْنُ الذَّبِيْحَيْنِ
“Aku adalah anak keturunan dua orang dzabihain (orang yang
disembelih). (HR. Al-Hakim)[8]
Yang dimaksud dengan dua orang yang dalam hidupnya terancam akan disembelih yang pertama iyalah ayah kandung Nabi shallallahu’alaihi wasallam yaitu Abdullah bin Abdul Muthalib, dan yang kedua adalah kakek buyutnya yaitu Ismail ‘alaihissalam.
Kelima disebutkan dalam sebuah riwayat, bahwa Muhammad bin Ka’ab mengatakan kepada Umar bin Abdul Aziz bahwa anak yang akan disembelih oleh nabi Ibrahim adalah Ismail, mendengar itu beliau berkata :
إن هذا لشيء ما كنت أنظر فيه، وإني لأراه كما قلت
“Ini termasuk perkara yang sedang saya cari tahu. Dan aku berpendapat seperti yang telah engkau katakan.”[9]
Yang berpendapat nabi Ishaq
Pendapat kedua ini dinisbahkan kepada beberapa nama besar dari kalangan ulama generasi tabi’in, tabiut tabi’in dan juga dari beberapa shahabat nabi seperti Ibnu Abbas. Bahkan ada klaim ini adalah pendapat mayoritas ulama klasik terdahulu. Meskipun kemudian ada yang membantah terhadap klaim tersebut dan menyebutkan fakta sebaliknya, dimana pendapat yang kuat dan yang diikuti oleh jumhur ulama adalah yang menyatakan Ismail lah yang akan disembelih.
Abu Muhammad ad Dinawari rahimahullah berkata :
وبلغنا عن عبد الله بن المبارك، عن يونس، عن الزّهرى، عن عمرو بن أبى سفيان ، قال: سمعت كعبا يحدّث أبا هريرة أنّ الذبيح إسحاق.
“Telah sampai riwayat kepada kami dari Abdullah bin Mubarak, dari Yunus dari az Zuhri dari Amru bin Abi Sufyan dia berkata : ‘Aku pernah mendengar Ka’ab berkata kepada Abu Hurairah bahwa yang akan disembelih itu adalah Ishaq.”[10]
Berkata al imam Sa’id bin Musayyib rahimahullah :
أنّ الذّبيح إسحاق
“Sesungguhnya yang akan disembelih adalah Ishaq.”[11]
Berkata al imam Qurthubi rahimahullah :
اختلف العلماء في المأمور بذبحه. فقال أكثرهم: الذبيح إسحاق
“Ulama berbeda pendapat tentang siapa yang disembelih. Dan kebanyakan mereka menyatakan yang disembelih adalah Ishaq.”[12]
Berkat al imam ath Thabari rahimahullah :
وأولى القولين بالصواب في المفدي من ابني إبراهيم خليل الرحمن على ظاهر التنزيل قول من قال: هو إسحاق.
“Pandangan yang paling benar dari dua kalangan yang berbeda pendapat mengenai siapa dari salah satu anak nabi Ibrahim yang dikorbankan menurut makna lahir firman Allah ini ialah pandangan yang mengatakan bahwa Ishaklah yang dikorbankan.”[13]
Dalilnya :
Dalil pertama yang dinyatakan oleh pendukung pendapat ini adalah firman Allah ta’ala :
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ
“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim…” (QS. Ash Shafat : 102)
Al imam Sa’id bin Musayyib ketika menjelaskan ayat ini berkata :
كان إسحاق معه وإسماعيل لم يكن معه ولكنه كان بمكة
“Yang bersamanya (Ibrahim) adalah Ishaq, sedangkan Ismail di masa kecil tidak bersama Ibrahim, tetapi dia ada di Makkah.”[14]
Dalil
yang kedua adalah pendapat ini didukung oleh
atsar beberapa sahabat Nabi salah satunya adalah Ibnu Abbas yang merupakan sosok
yang paling tahu tentnag tafsir al Qur’an. Dimana Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma berkata :
الذبيح هو إسحاق
“Orang yang akan disembelih adalah Ishaq.”[15]
Demikian juga ada riwayat bahwa sayidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu berkata :
هو إسحاقُ
“Dia adalah Ishaq.”[16]
Dalil ketiga dari pendapat ini adalah bahwa dalam informasi ahli kitab dan telah tercantum dalam Taurat dan juga Injil, yang disebut sebagai anak yang akan disembelih oleh Ibrahim adalah Ishaq, bukan Ismail. Dan tentang riwayat Israiliyat Nabi shalallahu’alaihi wassalam mengizinkan untuk menerimanya selama tidak jelas kedustaan informasinya.
Sanggahan
Tentu saja pihak pertama tidak bisa menerima pendalilan pihak kedua ini, mereka melakukan sanggahan terhadap dalil-dalil yang digunakan. Seperti misalnya tentang riwayat bahwa Ibnu Abbas menyatakan bahwa yang akan disembelih itu adalah Ishaq, pertama riwayat ini tidak sampai derajat shahih.
Dan yang kedua, justru dalam beberapa literatul dinukil bahwa pendapat yang dipegang oleh Abdullah bin Abbas radhiyallahu’anhumaa adalah Ismail sebagai putra nabi Ibrahim yang akan disembelih. Hal ini seperti yang disebutkan oleh imam Abdurrazaq :
قال ابن عباس: هو إسماعيل وكان ذلك بمنى
“Dan
berkata Ibnu Abbas : ‘Dia adalah Ismail dan dia saat itu ada di Mina...”[17]
Demikian juga imam as Sakhawi berkata :
أنه إسماعيل وبه قال ابن عباس وابن عمر ومحمد بن كعب القرظي وجماعة من التابعين محتجين بأن الكبش والذبيح كانا بمكة، ولم ينقل أن إسحاق وصل إلى مكة، بل إسماعيل
“Dia adalah Ismail. Ini adalah pendapat Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Muhammad bin Ka’ab dan beberapa orang dari tabi’in. Karena kambing yang disembelih itu ada di Makkah. Dan tidak ada satupun riwayat yang menyebutkan Ishaq pernah sampai ke Makkah, jelas itu adalah Ismail..”[18]
Dan adapun tentang informasi dari ahli kitab, kalangan pertama membawakan bantahan riwayat dari sayidina Umar bin Abdul Aziz, di mana beliau pernah memanggil seorang mualaf dari tokoh ahli kitab dan menanyai tentang perkara ini. Lalu ahli kitab tersebut Menjawab :
إسماعيل والله يا أمير المؤمنين، وإن يهود لتعلم بذلك
“Demi Allah itu adalah Ismail wahai amirul mukminin. Dan sungguh Yahudi sebenarnya mengetahui akan hal itu.”[19]
Dan lebih lanjut orang tersebut menjelaskan alasan ahli kitab mengganti dengan Ishaq adalah karena rasa hasad mereka kepada bangsa Arab dan juga demi untuk mengunggulkan nasab mereka karena bani Israel adalah keturunan Ishaq alaihissalam.
Kesimpulan
Ada khilaf yang kuat tentang masalah siapa dari dua nabi, yakni Ismail dan Ishaq yang hampir disembelih oleh abul anbiya, Ibrahim ‘alaihissalam. Dan tidak ada perlunya kita memperdebatkan terlalu jauh perkara-perkara yang sebenarnya jika Allah ta’ala menghendaki Dia cukup menyebutkan nama Ismail atau Ishaq dalam kitabNya atau lewan lisan Nabinya, sehingga tidak ada perbedaan pendapat.
Demikian, Wallahu A’lam.
[1] Al Bab fi al Ulumul Kitab (16/331)
[2] Bidayah wa Nihayah (1/191), Qashshash al Anbiya’ (1/292)
[3] Raddu ‘ala Manthiqiyin hal. 517
[4] Al Ibhaj fi Syarh Minhaj (2/237)
[5] Tafsir Tsa’alabi (1/323)
[6] Tafsir Khazin (4/24)
[7] Farah ba’da Siddah (1/68)
[8] Hadits ini lemah, lihat Kasyful Khafa’ (1/199), imam Ibnu Katsir mengatakan : “Hadits ini Gharib jiddan.” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/323)
[9] Tafsir ath Thabari (21/85)
[10] Al Ma’arif (1/37)
[11] Akhbarul Makkah (5/127)
[12] Tafsir al Qurthubi (15/99)
[13] Tafsir ath Thabari (21/86)
[14] Darjul Durur (4/1471)
[15] Sunan Sa’id bin Manshur (7/159)
[16] Sunan Sa’id bin Manshur (7/159)
[17] Tafsir Abdurrazaq (3/98)
[18] Tafsir as Sakhawi (2/203)
[19] Tafsir Ibnu Katsir (7/34)
0 komentar:
Posting Komentar